Rabu, 05 November 2014

Minggu, 13 April 2014

Catatan Pendakian Gunung Merbabu 3,142 mdpl

Assalamulaikum..
Nah gimana kabar-kabar? Alhamdulillah sehat semua kan.. Ya moga sehat-sehat..
Eh lo tau nggak...

Hehehe ---"

Santai manteman, itu tadi kalimat bercandaannya 'Dzawin' Stand up comedian SUCI 4 asal Bogor yang baru-baru ini ane suka. Suka dengan cara penyampaian materinya yang lebih berbobot, berisi, and nggak bikin gemuk (makanaan keleuus) :D

Pada edisi kali ini ane mau cerita-cerita tentang pengalaman ndaki sebuah gunung, yang mana dulu pernah sempat sekali kita berencana ndaki bareng-bareng (temen2 kampus) ke gunung itu n pada akhirnya malah gagal ndaki. Yap... Betul sekali, gunung Merbabu. (Yaelah pan itu udah kebaca dari judulnyee)

Gunung Merbabu terletak di wilayah Magelang dan Boyolali dengan ketinggian 3,142 mdpl. Termasuk salah satu gunung paling indah di Indonesia. Pendakian gunung Merbabu juga cukup populer, dikarenakan gunung ini memiliki tingkat kesulitan yang tidak terlalu tinggi ditambah pula dengan pemandangan yang disajikan memang indah.


Gunung Merbabu dikenal memiliki 7 buah puncak dengan 2 puncak tertinggi yaitu puncak Syarif (3,119 mdpl) dan puncak Trianggulasi (3,142 mdpl). 5 puncak lainnya adalah Watugubuk, Watutulis, Gegersapi, Ondorante dan Kentengsongo. Gunung ini juga memiliki 5 buah kawah yaitu kawah Candrodimuko, kawah Kombang, Kendang, Rebab, dan kawah Sumbernyowo.

Pendakian berawal dari sms-sms an sama seorang teman lama yaitu Ahmad Hafidz asal Magelang yang konon sekarang-sekarang ini hidup di kota Semarang. Awalnya memang dia orang nanya, "mau ikut ndaki nggak Jack..? Merbabu nih". Karena ane nggak mau menyia-nyiakan kesempatan yang jarang dateng seperti ini, akhirnya kata "okeh" lah yang menjawab pertanyaan Hafidz tersebut. "Pid, H-3 (dibaca: H min 3) antum sms ane lagi, kabar-kabarin..."

Jreng-jreng... Singkat kata, rencana pendakian Merbabu pun deal. Jadi. Dengan catatan ketemuan di sebuah masjid didaerah Selo pada saat sore hari (sekitar ashar).

Perjalanan dimulai. Berangkat dari kampus tepat pukul 1 pm waktu Surakarta bagian lagi panas-panasnya waktu itu. Haahh, sendiriaaan? Jomblo yaa?? Hahaha.. Di haha-hahain aja. Yah, sendirian memang berangkat ke Selo waktu itu, dikarenakan teman-teman yang biasa diajak ndaki gunung sedang mengalami kesibukan yang super, n seorang lagi terkena insiden kecelakaan motor sehingga tidak memungkinkan untuk ikut serta dalam pendakian ini.

Perjalanan yang menyiutkan semangat.. Perjalanan baru dimulai 15 menit (an kurang lebih) yang pada awalnya panas menanas (kata-kata baru yang sesat, tidak sesuai EYD) berubah menjadi mendung membendung yang berakhir dengan turunnya rintik-rintik air. Sempat berfikir untuk balik sebenarnya. Tapi apa daya perbekalan yang sudah dibeli, uang yang sudah keluar untuk mempersiapkan pendakian ini, and perut yang sudah terisi full ini-lah yang akhirnya meningkatkan kembali semangat sampai pada titik overstated. Dengan berhenti sebentar, memasang jas hujan atas-bawah yang sudah dibawa, dan... Perjalanan pun dilanjutkan.

Masjid Selo pukul 3.30 pm. Dingin, yang bukan hanya karena pasca hujan. Tapi memang keaslian cuaca didaerah Selo adalah seperti itu. Kita bertemu, bersalaman satu sama lain yang setelah dihitung-hitung jumlah keseluruhan Hafidz dan teman-temannya adalah 12 orang. Waw, kalau dihitung ane berarti 13 orang. Lumayan.

Tidak lama, rombongan pun melanjutkan perjalanan menuju base camp pendakian Gunung Merbabu yang jaraknya lumayan jauh dari masjid tersebut. Ane lanjut mengendarai motor dengan membonceng Hafidz di belakang. Jalan menuju base camp tidak selamanya lurus, mulus, dan datar. Jalan yang berliku, tidak rata alias banyak lobang-lobang, dan naik turun yang membuat motor dikendarai dengan pelan dan sangat hati-hati. Sesekali Hafidz turun jika jalan menanjak parah dan tidak rata.

15 menit sudah perjalanan ditempuh dari masjid Selo menuju base camp pendakian gunung Merbabu. Kita berdua beristirahat sambil menuju rombongan pejalan kaki yang belum sampai.





Rombongan pejalan kaki tidak lama kemudian datang ketika waktu menunjukan pukul 4.20 pm, kita mengadakan briefing sejenak. Mempersiapkan barang-barang yang perlu dibawa sampai atas, dan meninggalkan sisanya yang dirasa kurang di pentingkan.

"Yah, kita naik mulai jam 5 pm. Segera dipersiapkan, jangan ada yang tertinggal."

Ujar bang Rinaldi selaku pimpinan rombongan pendakian.

Semua bergegas. Jreng-jreeng....

Singkat kata, jam menunjukan pukul 5 pm. Tepat.

"Ayo-ayo kita kumpul lagi sebelum jalan."

Bang Rinaldi berseru kepada semuanya.

Kita segera memenuhi panggilan itu. Berkumpul, melingkar.

"Sebelum kita berangkat, alangkah baiknya kita berdo'a terlebih dahulu. Supaya nanti perjalanan kita tidak ada halangan dan semua bisa berjalan dengan lancar sesuai rencana.. Berdoa di dalam hati masing-masing, berdoa di mulai"

Semua diam, berusaha khusyu' dan mencoba larut dalam do'a masing-masing.

"Yah cukup... Amiin"

Rombongan pun berjalan, di iringi dengan rintikan air-air kecil yang turun secara beriringan. Gerimis.





Perjalanan menuju pos 1 melewati hutan pinus yang biasa digunakan sebagai tempat camping ground. Jalan yang dilewati pun terbilang landai dan sangat jelas. Sepanjang perjalanan ditemukan banyak petunjuk arah yang menuntun para pendaki. Dari base camp menuju pos 1 kurang lebih membutuhkan waktu sekitar 60 menit-an. Gambaran pos 1 tidak terlalu wah. Hanya berupa sebidang tanah luas, dan tidak ada pemandangan tambahan selain hanya berupa hutan seisi-isinya.

Karena pendakian diadakan di malam hari, maka tidak ada istirahat sesampainya di pos 1. Lanjut dan tetep ganteng dengan semangat... (muehehe).

Menuju pos 2, jalur yang dilewati masih cukup landai. Jalur yang membentang di tengah hutan tropis yang membuat udara semakin sejuk, apalagi dimalam hari. Ditengah perjalanan menuju pos 2, pendaki akan melewati pos bayangan 2 yang berupa sebuah tanjakan yang sangat terjal. Tanjakan ini adalah lintasan yang paling berat sepanjang perjalanan menuju pos 2. Menuju pos 2 dibutuhkan waktu sekitar 65 menit sampai dengan 70 menit-an. Dan kondisi yang ditampilkan tidak jauh dengan tampilan pos 1 yang berupa sebidang tanah akan tetapi hanyasaja sedikit lebih sempit.

Setelah meninggalkan pos 2, jalur pendakian mulai keluar dari hutan. Kita bisa melihat pemandangan berupa lembah pegunungan dan bunga-bunga edelweis muda (pada waktu itu baru tumbuh) di lereng gunung. Untuk sampai pada pos 3 yang dinamai "Watu tulis" ini hanya membutuhkan waktu sekitar 45 sampai 50 menit-an. Pos yang masih berupa sebidang tanah, akan tetapi cukup luas dan medannya sangat terbuka sehingga hembusan angin dimalam itu sangat terasa sekali. Mak nyessss...

Kita beristirahat sejenak, duduk selonjor. Mantap.

Tidak lama, perjalanan dilanjutkan. Menuju pos 4 yang disebut dengan "Sabana 1" dikarenakan konon terletak dipinggir sabana yang indah.

Inilah pos yang paling kita tunggu-tunggu, apalagi yang baru njajal gunung Merbabu pada waktu itu. Tapi untuk sampai di pos 4 harus melewati track yang tidak sangat-sangat mudah sobatt.. Jalur paling terjal pendakian Merbabu via Selo adalah jalur menuju pos 4. Jalur yang licin (apalagi setelah hujan) dan bercabang menuju bumbu tersendiri dalam perjalanan menuju pos 4. Nggak sedikit diantara rombongan pada waktu itu yang jatuhm, atau hanya sekedar terpeleset selama perjalanan. Menuju pos 4 butuh waktu 65 sampai dengan 75 menit untuk sampai.

Mau lihat penampakan "Sabana 1"? Tapi ngambil waktu turun nggak papa kan ya.. Ngga papa lah, kan blog-blog ane :p





#bersambung sek...

Minggu, 02 Maret 2014

Jika calon imam-mu seorang pecinta alam

Respon apa yang pertama kamu beri saat kamu membaca CV, dan melihat naik gunung, sebagai aktivitas favorit calon imam-mu (hueekk) ini? Mungkin kamu akan terkejut, mungkin illfeel, atau tidak terlalu peduli. Entah apa pun responmu itu, toh pada akhirnya kamu menerimaku sebagai partner hidupmu.

Sayang,

Jika kamu bertanya padaku tentang destinasi liburan kita setelah menikah, mungkin aku akan meminta Ciremai, bukan Bali. Aku lebih memilih tenda kapasitas dua yang kokoh dibandingkan hotel berbintang yang megah. Setelah menikmati puncak bersama. Lupakan soal Eropa dan benua lain, aku masih jatuh cinta dengan negeri ini terutama gunung-gunungnya. Kamu tahu Semeru sayang? Pastilah, nama gunung ini mendadak sangat tenar pesat semenjak sebuah film mengangkatnya dengan begitu sukses. Jika kamu belum pernah ke sana, kamu harus. Di bulan Juni yang cerah, padang oro-oro ombo menyapa di balik tanjakan cinta, dengan hamparan lavender ungu yang menggoda mata (dengar-dengar seperti itu). Tidak sampai Mahameru juga tidak apa, karena menjelajahi Semeru bersamamu lebih kuinginkan dibandingkan menegakkan merah putih di puncak tertinggi Pulau Jawa ini.

Tapi ini bukan tentang perjalananku, ini adalah tentang perjalanan kita. Jika kamu tidak ingin mendaki gunung bersamaku tidak mengapa, kita masih bisa meyusuri pantai dan menyapa senja bersama. Kalau kamu terlalu sibuk dengan pekerjaanmu, sehingga kita tidak sempat bercengkarama dengan alam, itu juga tidak mengapa. Aku akan membawakan pagi untukmu dalam secangkir yang bukan kopi. Aku akan mendatangkan siang untukmu dalam sepiring yang bukan nasi Padang. Aku akan menghadiahkan malam untukmu dalam semangkok yang bukan bubur ayam.
(Ngerti nggak? Hahaha :D)

Sayang,

Aku akan tetap menyukai langit yang bertabur bintang tanpa sekat. Aku akan tetap menyukai pelangi di padang savana setelah hujan yang mengguyur semalaman. Aku akan tetap menyukai mata air, pegunungan, embun, edelweiss. Meskipun ketika sudah bersamamu, aku tidak akan sempat bermain bersama mereka. Tidak mengapa. Tapi, anak-anak kita nanti harus dibesarkan oleh alam, bukan oleh kota besar. Anak laki-laki kita harus bisa memanjat pohon, dan bermain di sawah. Anak perempuan kita harus pandai berenang.

Percayalah, alam akan membentuk mereka menjadi pribadi yang mandiri dan berjiwa besar. Saat mereka bisa berbuat baik pada burung perkutut yang terluka, maka mereka akan dengan sangat mudah mencintai sesama. Saat mereka tanpa rasa takut, berani menyapa kuda, bahkan menungganginya, maka mereka juga tak akan pernah takut untuk jatuh. Kau tahu kenapa Sayang? Karena Allah berfirman bahwa Dia menciptakan manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi, amanah yang bahkan semesta ini tak sanggup memikulnya. Maka biarkan anak-anak kita menjalankan amanah itu. Begitu pun kita.

Sayang,

Aku tidak memiliki kewibawaan bak seorang raja, ketampanan seorang pangeran, atau kedudukan setinggi anak dari orang terpandang. Aku hanyalah aku, seseorang yang mencintai alam. Aku tidak bisa bermain gitar, tapi aku setidaknya bisa menyelam. Aku tidak pandai berdansa, tapi kupikir kita tak butuh itu kan? Aku sedikit suka memasak, tapi aku tak bisa memasak makanan Eropa untukmu. Aku benar-benar seorang laki-laki biasa. Kesederhanaan adalah bagian dari hidupku.Kamu tahu kenapa? Karena kesederhanaan itu mengajarkan banyak hal. Dan hal itulah yang akan kusukai kelak dari istriku (hueeek). Kamu yang tetap sederhana, meskipun mungkin kamu adalah orang yang bisa membeli dunia. Kesederhanaan pula yang akan tetap membuatku berada di sampingmu, bahkan di masa-masa terpurukmu sekalipun.

Nah sayang, bagaimana jika kamu juga sama sepertiku? Sama-sama menyukai alam? Kamu pasti bisa menerkanya, bahwa perjalanan menua bersama kita, akan dipenuhi oleh serangkaian petualangan yang tak terlupakan.

Dariku, laki-laki biasa yang masih bertumpuk dosa.
Bisa-kah kamu membawaku menjadi lebih baik hingga kita bisa menua bersama, sayang?

Rabu, 15 Januari 2014

Catatan Pendakian Merapi 2,968 mdpl

Ehm..

Test... Test...

Pada kesempatan yang lumayan lapang ini (emang bolaa), senang sekali saya bisa memperbaharui postingan blog yang sudah cukup manis ini.. (hahaha)

Kali ini saya coba bercerita tentang perjalanan pendakian menuju gunung Merapi. Pendakian yang sengaja kita bertiga waktu itu, saya, mas Dzikri, dan mas Bambang lakukan bertepatan dengan pergantian malam tahun baru 2014.


Perjalanan dimulai dari kampus kita tercinta, STIE Swastamandiri yang terletak di Jalan Tejonoto 1 Danukusuman Gading mulai pukul 4 sore waktu Surakarta bagian menenangkan (emang ada?). Kondisi gerimis-gerimis yang bersahaja tetap tidak menyurutkan langkah kita bertiga untuk berangkat menuju pos pendakian Merapi di wilayah Selo, Boyolali. Dengan perbekalan yang sudah dipersiapkan, kita berangkat menggunakan 2 buah sepeda motor.

Perjalanan Surakarta-Boyolali menghabiskan waktu kurang lebih 2 jam ditempuh dengan kecepatan sepeda motor yang lumayan menegangkan. Gerimis semakin deras (hujaaan maksudnya), yang membuat roda sepeda motor menjadi agak-agak licin itu menyebabkan mas Bambang dan mas Dzikri mengendarainya lebih berhati-hati.

2 jam perjalanan tertempuh sudah dengan selamat. Kita berhenti di sebuah masjid yang biasa ditempati oleh para pendaki untuk sholat secara berjamaah. Hawa dingin yang sudah menusuk-nusuk mesra di kulit masing-masing orang yang berada dikawasan itu, membuat semuanya berpakaian tebal. Jaket, kaos kaki, kaos tangan, dan perlengkapan sebagainya digunakan untuk sekedar menawar dinginnya pedesaan Boyolali.

Setelah mengambil wudhu, kita bertiga melaksanakan sholat maghrib berjamaah plus sholat isya' yang dilakukan secara qoshor. Setelah sholat, kita lanjutkan dengan aktivitas yang bermanfaat (dan mengenyangkan) yaitu makan malam. Makan malam kali ini terbilang sangat lumayan berbeda daripada makan-makan malam yang sebelumnya sering kita laksakan dikantin kampus. Menu yang dipesan harus atau minimal hangat, dengan minuman yang panas bahkan.

Setelah dirasa cukup (kenyang), kita bertiga kembali ke masjid untuk istirahat. Istirahat yang ditargetkan akan lama karena kita bertiga akan memulai pendakian pada pukul 1 malam waktu Boyolali bagian banyak petasan yang meledak pada waktu itu.



Pendaki gunung yang lain sudah mulai bergerak. Entah mereka mendaki dengan sistem kemping atau apapun itu, sehingga membuat masjid kosong melompong yang hanya menyisakan 3 gelintir orang dari kita saja. Maklum, perlengkapan pendaki lain lebih lengkap se tenda-tendanya. Kita? Ya belum punya tenda, maka dari itu istirahat di masjid (ciyyaaaan).

(tiba-tiba senyap zzzzzzzzz.........)

Tepat jam 00.00 waktu setempat. Ramai, nyenengin, berisik, ngesellin, semua rasa itu terkumpul menjadi satu. Ramai dan nyenengin disebabkan oleh bunyi banyak petasan yang diledakkan dengan beriring-iringan dibarengi dengan teriakan menyambut pergantian tahun menuju 2014. Berisik dan ngesellin dikarenakan mengganggu istirahat kita orang bertiga. Yyah itulah gambaran kondisi yang bisa dilaporkan pada malam itu.

Karena sudah terlanjur terbangun, kita bertiga melakukan pemanasan-pemanasan ringan. Lari-lari kecil, jingkrak-jingkrak, scot jump, dan lain sebagainya sebagai langkah awal persiapan dalam melakukan pendakian. Lumayan, pemanasan yang dilakukan selama 30 menit itu membuat badan masing-masing kita sedikit merasakan hawa-hawa pendakian yang bergairah.

Setelah siap, kita berangkat menuju pos pendakian Merapi yang jaraknya tidak terlalu jauh dari masjid. Mak nyessssss (enam kali huruf s), dua kata yang cukup mewakili hawa dinginnya malam itu. Setelah menitipkan motor dirumah warga, melakukan administrasi wajib bagi setiap pendaki, perjalanan pun dimulai dari sini. Satu langkah yang kita bertiga pijakkan dengan dibarengi kalimat "Bismillahirrohmaanirrohiim" mengawali terjadinya pendakian Merapi di era menyenangkan dan men-dag-dig-dug kan pada waktu itu.

Semasa perjalanan, suasana yang ditampilkan oleh gunung Merapi beserta jajarannya sangat biasa. Sepi, tenang, dan tanpa ada suara kicauan burung gunung sekalipun. Yang terlihat tidak biasa pada perjalanan malam itu adalah justru tanah-tanahnya, tanah Merapi yang sudah retak sana-sini dan ditambah lagi juga jarangnya terdapat longsoran yang cukup besar dibagian sebelah kiri.


Karena dirasa jarak pendakian Merapi tidak terlalu lama, kita bertiga akhirnya memutuskan untuk berhenti di pos 1. Lumayan, kondisi pos 1 Merapi kali itu cukup ramai. Istirahat yang baik ketika menempuh suatu perjalanan adalah istirahat senyaman mungkin sambil minum yang anget-anget kalau dingin atau minum yang dingin-dingin kalau anget (Hahaha...) Begitu juga kita bertiga. Mas Bambang mengeluarkan kompor beserta gas-nya, mas Dzikri mengeluarkan panci beserta sendoknya, dan saya (eng-ing-eeeeeng) mengeluarkan susu, kopi jahe beserta jodohnya, yaitu air.

(tsaaah, kibas rambut)

Ritual memasak kopi jahe panas pun dimulai. Setelah air yang dimasak mengalami pem-blubuk-blubukaan (apaaaah ini paaah..) 3 bungkus serbuk kopi jahe pun dimasukkan. Tidak lama, terciumlah aroma kopi jahe yang tidak terlihat wujudnya (yaiyaa, kaan menciuum)... Terhirup harumnya, terbayang kenikmatan dalam tiap seruputannya, terbesit kehangatan yang terkandung ketika kita menenggelamkannya ke kerongkongan. (Hahaha)





Setelah merasa hangat-hangat mengkhawatirkan, kita melanjutkannya dengan melaksanakan tidur (lagi). Inilah pendakian ter-enak sepanjang sejarah pendakian yang sudah dilakukan oleh seorang Ahmad Dzakiyuddin. Makan, tidur, bangun, ndaki, jalan sebentar, istirahat, minum-minum kopi, tidur lagi. Begitulah urutan-urutannya.

Subuh tiba. Kita bertiga bangun dan langsung mengambil air untuk wudhu. Sholat subuh yang syahdu, sama seperti suasana sholat shubuh-sholat shubuh dalam pendakian sebelum-sebelumnya.

Usai sholat, ritual pengepack-an dimulai. Setelah dilanjutkan sarapan dengan roti secukupnya, minum sedikit air sewajarnya, kita bertiga melanjutkan pendakian. Suasana labil diperlihatkan Merapi pagi itu. Sedikit terang, tiba-tiba mendung dan berkabut. Tidak lama jalan, kembali terang, begitulah seterusnya. Ketika terang sedikit, juga didukung oleh pemandangan yang terbilang mantep, otomatis kita bertiga minta diambil gambar.









Gimana? Tjakep-tjakep yaak? Hahaha #dikeplak

Memasuki pos 2, gambaran pendakian yang diperlihatkan Merapi terlihat beda. Setelah ebelumnya yang ada hanya tanah-tanah, retakannya, beserta longsorannya, kali ini diperlihatkan dengan tanah dan banyak bebatuan dari berbagai ukuran yang berbeda. Track yang disuguhkan pun terasa lebih aduhai bin waw alias waduwh (opooo to ikii).

Tanah dan batuan yang lebih licin membuat kita orang bertiga lebih berhati-hati. Tapi yang lebih bagusnya, jalan-jalan yang kita lewati menampilkan pemandangan disebelah kanan dan kiri yang tidak kalah sedapnya (kalau dicocol pakai sambel kacaaang hahaha) dengan kesusahan track yang dilewati. Lumayaan, mantap.



Perjalanan yang tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai dipos tiga. Pos tiga yang tidak jauh berbeda menampilkan track dan pemandangan dengan apa yang ada dipos dua. Hanya saja kali ini lebih banyak batuannya dibandingkan dengan pos dua yang berimbang antara bebatuan dan hijaunya alam Merapi. Dipos tiga inilah kita orang bertiga banyak mengambil foto demi mengabadikan moment indah dalam ekspedisi Merapi kali perdana ini.

Mau lihat foto-fotonya? Hahaha..
Nggak usah dijawab, da emang mau dipamerin foto-fotonya :p





"Yo'i banget"... Dua kata untuk mewakili perasaan kerennya pendakian Merapi ini. Cuaca selama pendakian yang berawal terang, tiba-tiba berangsur mendung, disusul hembusan angin yang kencang, kabut tebal, sehingga dirasa titik-titik embun menetes serupa gerimis lebih sedikit rasa hujan yang bukan hujan (mudeeeng?).

Perjalanan kita lanjutkan melewati bongkahan demi bongkahan batu Merapi yang konon hasil longsor akibat aktivitas batuknya gunung ini beberapa waktu sebelumnya.

Angin yang semakin berhembus kencang serasa membuat setiap kita yang berjalan kali itu terdorong-dorong. Melewati gerombolan pendaki lainnya membuat kita bertiga bertegur sapa dengan mereka, walau hanya dengan lontaran kalimat "ayoo mas lanjut!" dan "misi mas duluaan..." yang coba dikeluarkan dari mulut kita.

Berbeda dengan para pendaki yang sudah turun. Mereka lah yang justru menyapa kita. Seseorang dari mereka yang turun bertanya,

"mau naik sampai mana mas...?"

Segera pertnyaan tersebut disahut oleh mas Dzikri,

"sampai Pasar Bubrah aman nggak mas? Anginnya tambah kenceng?"

"waah, banget mas.. Mending nggak usah dilanjutkan, kita-kita aja basah begini. Kalau sampai sana malah nyesel nanti, beneran."

Begitu jawaban dari seseorang itu.

Dari jawaban tersebut bisa kita bertiga ambil kesimpulan bahwa pendakian dicukupkan hanya sampai disini. Pos tiga jauh, sebelum menanjak sekali tanjakan lagi yang sampai pada suatu tempat biasa disebut "Pasar Bubrah".

"Oke mas, makasih infonyaa.." Mas Dzikri menyambung.

Yasudah.. karena cuaca yang tidak mendukung, kita cukupkan hanya disini. Hmm..






Demi memenuhi teriakan perut yang minta untuk di isi, akhirnya kita orang bertiga turun sedikit kebawah. Mencari tempat yang aman untuk memasak..




Dengan ini catatan pendakian Merapi 2,968 mdpl ane cukupkan hanya sampai disini, ketemu lagi n bisa mbaca-mbaca dilain kesempatan. Diwaktu pendakian selanjutnya, insya Allah... :))

Senin, 09 Desember 2013

Mencintai itu Investasi


Mencintai Itu Investasi

“Picik sekali pikiranmu? Cinta ko disamain sama hal berbau komersil sih?”

Mungkin kamu yang baca judulnya udah buru-buru berpikir seperti itu. Hal itu wajar, apalagi kalo kamu belum membaca tulisan ini sampai habis. So, ga ada salahnya buat baca dulu posting ini sampai habis dan temukan jawaban dari rasa ingin tahumu.

Ini adalah definisi investasi menurut wikipedia : Investasi berkaitan dengan akumulasi suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan dimasa depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal.


Oke, fokus! Sekarang kalo kita hubungkan dengan perasaan mencintai.

Mencintai berarti menumbuhkan harapan. Dengan mencintai, kita menanamkan modal berbentuk harapan-harapan yang akan berbuah suatu hal yang menyenangkan kita di masa depan. Ada yang kita berikan disana, sebagai bukti bahwa kita mencintai.

Contoh paling simple dimana rasa mencintai menjadi investasi yang kebal RUGI. Mencintai Sang Maha Cinta. Mencintai dia yang menanamkan rasa cinta di hati kita. Kita mencintaiNya sebagai tanda syukur kita, sebagai bukti Taat kita. Namun di sisi lain, apakah ada harapan-harapan yang ikut menyertai?

PASTI ADA!

Aku mencintaiNya, karena aku berharap masuk surgaNya! Apapun harapanmu, bayangan surga pasti jadi alasanmu mencintaiNya. Atau bisa jadi, alasanmu mencintaiNya juga karena takut akan neraka Nya.

Nah! Sekarang kalo hubungannya sama pasangan gimana nih..

Seorang kawan pernah menceritakan padaku bahwa dia selama lima tahun ini memberikan rasa cintanya pada seseorang. Membumbungkan harapnya yang begitu tinggi untuk masa depan. Mengharapkan aku dan kamu menjadi kita.

“Aku mau ngomong dua kata sama kamu”

“Apa?”

“Aku cinta kamu!”

“Lho itu kan tiga kata?”

“Dua kata. Karena aku dan kamu itu satu..”

SKIP! Intermezo gombal tadi. Sampai mana kita tadi?

Ah, sampai seorang kawan yang sudah berinvestasi harapan setelah lima tahun lamanya. Nah! Di tahun kelimanya ini, dia justru dilanda badai krisis harapan hebat. Karena apa? Karena dia tak tahu mau dibawa kemana hubungannya. Dia dan pasangannya ternyata berbeda. (Ya iyalah kalo sama serem cyiiin.. Jeruk makan jeruk donk). Errr.. Maksudku beda agama.

Saat dia berharap harapan-harapannya menuju pelaminan terlaksana, di satu titik dia menyadari, hal itu MENTOK! So, apa yang terjadi? WUUUZZ! Dalam sekejap, logika mengalahkan rasa dan membuat rasa cinta nya turun drastis kepada pasangannya.

Sebenarnya itu bisa dicegah lho.. Kita dari awal udah bisa merasakan, wah ini nanti bakal runyam kalo diteruskan.. Daripada kamu jatuh semakin dalam… kenapa tidak kamu amputasi lebih awal. Sakit sih.. Tapi mending sakit kutil kan daripada kalo dibiarin jadi tumor..

Itu tadi tentang perkara pertama!

Lalu yang kedua, kadang jika kita menggantungkan harapan pada seseorang, munculah sebuah rasa bernama… “Rasa Takut Kehilangan”


Ngaku deh,,, kalo kamu melihat seseorang yang semakin lama dilihat dia semakin baik, semakin cocok, dan semakin membuatmu kagum, maka akan tumbuh rasa semakin takut kehilangannya. Wah, malah kadang-kadang ini bisa aja berbuah jadi tindakan-tindakan Irrasional. Kasus siska menurutmu karena apa? Karena takut kehilangan..

Rasa takut kehilangan. Ada “rasa” pada frase tadi. Sesuatu yang berasal dari perasaan seringkali melumpuhkan pikiran. Kamu gak akan bisa berpikir jernih kalau rasa takut kehilangan mengendalikan. Kamu akan melakukan apa pun, entah itu mengubah diri dan berusaha membuat diri menjadi sempurna, atau mengubah dia. Intinya biar dia gak pergi, bahkan gak jauh dari kamu. Hasilnya… dia bisa aja gak nyaman dengan perlakuan itu.

Ketika rasa takut kehilangan menyetirmu dengan segala tindakan gak logisnya, dia semakin gak nyaman, dan akhirnya benar-benar pergi.

Rasa takut kehilangan seringkali malah jadi kenyataan.

Banyak orang yang akhirnya berpisah sama orang-orang yang dia sayang cuma karena rasa takut kehilangan. Tapi ketika sendiri pun, rasa itu bisa datang lagi dan menghantui.

Takut kehilangan padahal memiliki saja belum. Hal ini sering banget terjadi pada mereka yang jatuh cinta diam-diam, mengagumi dalam bisu. Belum memiliki, bahkan kenal pun belum, tapi sudah berpikir terlalu jauh. Ujung-ujungnya… nyesek sendiri.

Hayolo.. ngaku aja deh.. Gimana nyeseknya perasaan kamu dulu pas kamu tau orang yang diam-diam kamu sukai justru memilih orang lain.

Sms sms mesra nya sama siapa, nikahnya sama siapa..

LDR an nya ma siapa, ngelamarnya sama siapa..

Yang dikenalin ke orang tua siapa, yang dibawa ke KUA siapa..

Halah.. Ujung-ujungnya curhat strike again!


Bahkan pada tahap paling awal dua orang bertemu pun, rasa takut kehilangan bisa muncul. Misalnya pas sebelum kenalan, sering banget seseorang mikir, “Gimana nanti kalo dia gak mau? Terus kalo dia mau tapi gak bisa berlanjut dengan baik gimana? Gue harus mulai dari mana? Gue mesti gimana?”

Dari situ aja, bisa diliat kalau seseorang yang bahkan belum kenal pun bisa takut kehilangan.

Pada akhirnya Aku menyadari bahwa rasa takut kehilangan bukan ada karena kita memiliki. Tapi tumbuh bersama-sama dengan harapan untuk memiliki.

Dan semua diawali dengan terlalu berharap.

Mereka yang baik dalam menjaga hatinya adalah mereka yang berhasil mengendalikan harapan-harapan dalam dirinya.

Reblogging dari:

Statistic

Ads 468x60px

Featured Posts

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Social Icons

 

This Template is Brought to you by : AllBlogTools.com blogger templates